Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 05

Makin dipikir makin sedih, tanpa terasa air mata pun berlinang-linang. Tapi ia tidak berani mengusapnya, sebab ia tidak mau Ciok Tim melihat kesedihannya. Sekonyong-konyong So-so berhenti melangkah sambil menjerit. Cepat Liong Hui dan Giok-he berpaling, Ciok Tim juga lantas memburu maju sambil berseru.

"Ada apa?"

Di tengah remang malam terlihat wajah Ong So-so yang terkejut dan air mata berlinang sedang memandang permukaan tanah dengan tercengang. Permukaan tanah yang kelam, tampaknya tiada sesuatu yang mengherankan. Ketika Giok-he dan lain-lain ikut memandang ke tempat yang membuat So-so tercengang itu, ternyata di atas batu di situ ada bekas kaki yang mendekuk cukup dalam. Serentak mereka pun berseru kaget.

Tanah berbatu di sini sangat keras. Orang biasa biar pun menggunakan senjata tajam juga sukar membuat bekas kaki sedalam ini, akan tetapi orang ini cuma menginjak begitu saja lantas meninggalkan tapak kaki sedalam ini. Bekas kaki itu tidak lurus, tapi miring ke kiri. Ujung kaki tepat mengarah sebuah jalan simpang yang membelok ke kiri.

So-so memandangnya dengan tercengang. Sekian lama baru dia berkata dengan tergagap, "Bekas... bekas kaki ini apakah mirip dengan kaki... kaki Suhu...?"

Kemudian Giok-he menjawab, "Bekas kaki ini bukan kaki Suhu! Hanya tampaknya memang mirip."

"Ya, bukan saja besar-kecilnya sama, sampai bentuk sepatunya juga sama," tukas So-so.

"Saat ini orang persilatan sudah jarang yang memakai sepatu bersol tebal semacam sepatu Suhu ini," kata Ciok Tim.

Supaya diketahui, orang kangouw umumnya suka memakai sepatu tipis ringan untuk memudahkan gerak-gerik mereka, jarang yang mau menggunakan sepatu bersol tebal seperti yang biasa dipakai kaum pembesar negeri. Apalagi kalau digunakan menempuh perjalanan di tanah pegunungan, jelas sepatu tebal ini tidak cocok.

Perlahan Giok-he mengangguk, katanya, "Memang benar jarang ada orang kangouw yang mau memakai sepatu tebal begini. Tapi di dunia kangouw sekarang siapa pula yang memiliki tenaga dalam sehebat ini?"

"Betul juga. Bekas kaki yang ditinggalkan beliau pasti untuk menunjukkan ke arah mana beliau pergi," tukas Liong Hui.

"Ya, kukira begitu," kata So-so berbareng dengan Ciok Tim.

"Tapi kalian sama melupakan sesuatu," jengek Giok-he mendadak.

"Sesuatu apa?" tanya Ciok Tim heran.

"Meski bekas kaki ini mirip kaki Suhu, dipandang dari dekukan sedalam ini juga cuma Suhu saja yang mampu, akan tetapi bekas kaki ini pasti bukan ditinggalkan oleh Suhu, sebab...." Giok-he sengaja merandek, lalu menyambung sekata demi sekata, "Sebab saat ini Suhu tidak lagi mempunyai tenaga dalam sekuat ini."

Liong Hui, Ciok Tim dan So-so sama melengak, tapi segera mereka pun sadar persoalannya dan berseru serentak, "Ya, betul!"

Liong Hui lantas menambahkan, "Suhu sudah melemahkan tenaga sendiri tujuh bagian untuk memenuhi tuntutan gadis she Yap itu. Kekuatannya sekarang tidak lebih hanya sebanding dengan kita, mana beliau sanggup meninggalkan bekas kaki sedalam ini di atas batu?" Ia pandang Giok-he dengan penuh rasa kagum, lalu bergumam pula, "Hal ini sama diketahui kita, tapi mengapa cuma engkau saja yang mengingatnya?"

"Soalnya kalian sudah lelah, lapar dan juga tegang. Dalam keadaan demikian orang memang sering melupakan sesuatu," ujar Giok-he dengan tersenyum.

Mendadak So-so mengangkat kepala dan berkata pula, "Tapi kalau bekas kaki ini bukan bekas kaki Suhu, lantas bekas kaki siapa? Di dunia kangouw zaman ini, kecuali Suhu siapa pula yang memakai sepatu model begini dan berjalan di lereng pegunungan yang curam dan sepi ini? Siapa pula yang memiliki lweekang setinggi ini?"

Seperti telah diceritakan, sejak pertemuan Hoa-san dahulu, hampir segenap inti kekuatan dunia persilatan telah gugur bersama. Selama ini belum terdengar di dunia persilatan ada tokoh yang berkuatan sebanding dengan Tan-hong dan Sin-liong. Sebab itulah pertanyaan Soso ini benar-benar sangat tepat. Mereka saling pandang dengan bingung sampai sekian lamanya.

Akhirnya Liong Hui bergumam, "Jangan-jangan di dunia persilatan sekarang telah muncul tokoh kelas tinggi baru."

"Jangan-jangan Suhu...," mendadak Ciok Tim urung meneruskan ucapannya.

"Suhu kenapa?" tanya Liong Hui dengan gelisah.

Ciok Tim memandang kiri-kanan. Dilihatnya Giok-he dan So-so juga sedang memandangnya seperti ingin tahu lanjutan ucapannya itu. Akhirnya ia berdehem dan berkata pula, "Kukira bisa jadi... bisa jadi bekas kaki itu di... ditinggalkan Suhu waktu... waktu...."

"Maksudmu mengkhawatirkan Suhu mengalami luka parah setelah bertanding dengan orang, dan bekas kaki ini ditinggalkan beliau waktu buyarnya lweekang sebelum ajal?" tukas Giok-he tak sabar.

"Ya... ya, kukhawatir begitulah adanya," sahut Ciok Tim dengan menunduk.

"Hah, apakah benar Suhu... Suhu telah meninggal?" teriak Liong Hui dengan cemas.

Hendaknya maklum, orang yang menguasai lweekang tinggi, pada sebelum ajalnya setiap jurus yang dikeluarkannya dengan sepenuh tenaga pasti lihai luar biasa. Begitu pula bila tenaga dalam itu dibuyarkan pada waktu menghadapi ajal, setiap gerakan kaki atau tangan tentu luar biasa kuatnya.

Sejak kecil Liong Hui telah belajar silat dengan guru ternama, dengan sendirinya ia cukup paham dalil ini. Maka dia pula yang paling berduka, tanpa terasa air mata lantas berlinang.

"Mungkin itu cuma dugaanku saja, hendaknya Toako jangan...." ucap Ciok Tim dengan gelagapan.

"Betul, ucapanmu memang ngawur," kata Giok-he tiba-tiba.

"Masa ucapannya tidak berdasar?" tanya Liong Hui sambil mengusap air mata.

"Kusangsikan bila betul ini bekas kaki Suhu, mengapa di sekitar sini tidak ada sesuatu tanda waktu dia bertempur dengan lawan?" ujar Giok-he. "Selain itu pesan yang ditinggalkan Suhu apakah mungkin ditulis di sini?"

"Betul, bila betul Suhu membuyarkan lweekang-nya menghadapi ajalnya, mana beliau dapat meninggalkan pesan sejelas itu?" seru Liong Hui.

"Habis bekas kaki siapakah ini?" kata So-so dengan gegetun.

Giok-he memandang anak dara itu dengan tersenyum. Mendadak ia berkata dengan suara lantang, "Siapa yang meninggalkan bekas kaki ini sekarang belum dapat diketahui, yang jelas orang yang meninggalkan bekas kaki ini pasti ada hubungannya dengan Suhu."

"Apa dasarnya?" tanya Liong Hui.

Giok-he memandang sang suami sekejap, lalu bukannya menjawab malah menyambung, "Dan pasti juga mengisyaratkan sesuatu rahasia."

Liong Hui tambah bingung, "Kenapa kau bilang bekas kaki ini ada sangkut pautnya dengan Suhu?"

"Sebab kalau bukan urusan yang menyangkut Tan-hong dan Sin-liong, mana bisa ada tokoh Bu-lim kelas tinggi berkeliaran di pegunungan Hoa yang sunyi ini?" tutur Giok-he.

"Kau bilang bekas kaki ini mengisyaratkan sesuatu rahasia, kalau begitu bolehlah kita tunggu saja di sini. Coba lihat sesungguhnya apa persoalannya?" ujar Liong Hui.

Tiba-tiba Ciok Tim menanggapi, "Kukira Toaso tidak bermaksud menghendaki kita tinggal di sini, cuma aku pun tidak tahu apa yang harus kita lakukan."

"Jika begitu, lebih baik kita... kita pulang saja," tukas So-so.

"Tampaknya Simoay telah merindukan rumah," Giok-he berseloroh. "Padahal kita tentu juga ingin cepat pulang. Cuma kebetulan dapat kita temukan petunjuk yang menyangkut diri Suhu, mana boleh kita tinggalkan begini saja? Saat ini memang belum diketahui sesungguhnya apa arti bekas kaki ini serta rahasia apa yang terkandung di dalamnya. Tapi dapat kupastikan satu hal, yakni arah yang ditunjuk ujung kakinya ini pasti arah kepergian Suhu."

"Jika begitu, marilah kita mengikuti arah yang ditunjuk," kata Ciok Tim.

"Setuju!" seru Liong Hui.

Giok-he tersenyum, segera Liong Hui mendahului membelok ke arah kiri. Pegunungan Hoa memang sunyi dan kelam. Jalan setapak ini terlebih curam dan sukar dilalui. Jika mereka tidak menguasai ginkang yang tinggi, tentu satu langkah saja sulit meneruskan perjalanan.

"Alangkah baiknya jika membawa obor," gumam Ciok Tim.

Kening Ong So-so tetap bekernyit, ia berjalan dengan lesu. Mendadak ia mengertak gigi, terus melompat maju dan malah mendahului di depan Liong Hui.

"Simoay memang tidak mau kalah, coba lihat dia...."

Belum lanjut ucapan Giok-he, tiba-tiba So-so berseru terkejut lagi. Menyusul Giok-he bertiga juga bersuara kaget. Kiranya tidak jauh di depan So-so sana mendadak ada cahaya api. Di tengah pegunungan sepi ini, nyala api ini jelas buatan manusia. Dengan terkejut mereka coba mengawasi depan sana. Tertampak di depan sebuah tebing menegak menghadang jalan mereka. Karena nyala api itu dirasakan seperti timbul mendadak, maka dinding tebing itu seakan-akan juga muncul secara ajaib.

Dinding tebing itu ternyata halus licin, sama sekali tidak ada tumbuhan apa pun. Waktu mereka melongok ke atas, karena tidak tercapai oleh cahaya api, bagian atas tebing kelihatan gelap gulita sehingga sukar diraba berapa tingginya. Angin mendesir, sinar api bergoyang menambah seramnya keadaan.

Setelah tertegun dan ragu sejenak akhirnya So-so mendekati tempat obor itu diikuti oleh Liong Hui bertiga. Jarak obor yang tidak jauh ini dirasakan oleh mereka makan waktu sekian lamanya baru dapat dicapai. Sesudah dekat baru terlihat jelas obor itu terbuat dari empat tangkai kayu cemara yang terikat menjadi satu.

Terkesiap Ciok Tim. "Hah, obor, ternyata ada obor!" Tadi dia menggerundel alangkah baiknya jika ada obor, sekarang obor yang disebutnya benar-benar muncul.

Liong Hui saling pandang sekejap dengan Giok-he dengan melenggong.

"Jangan-jangan gerak-gerik kita telah... telah diawasi orang?!" kata Liong Hui.

Giok-he berpikir sejenak, katanya kemudian, "Urusan ini memang aneh. Memangnya siapakah yang mampu mengikuti kita secara diam-diam tanpa ketahuan? Sesungguhnya apa maksud tujuannya, kawan atau lawan...?"

Ucapannya terhenti ketika ia memandang ke arah dinding tebing yang licin itu, sebab mendadak ditemukan sebaris tulisan yang sangat mengejutkan di dinding tebing itu. Semua orang ikut memandang ke sana dan sama terkejut. Ternyata tulisan itu berbunyi,
Liong Po-si, bagus sekali kedatanganmu! Di ketinggian tebing sana ada tulisan yang ingin kau baca, apakah kau berani naik ke sana?

Tulisan yang bernada menantang, gaya tulisan yang kuat! Memangnya siapa yang berani menantang terhadap Put-si-sin-liong yang namanya menggetarkan dunia persilatan itu? Siapa yang memiliki lweekang selihai ini sehingga sanggup meninggalkan ukiran tulisan di dinding batu yang keras ini?

Liong Hui menarik napas dingin. Ia coba melompat maju untuk mengamati ukiran tulisan yang luar biasa itu. Sedangkan pandangan Kwe Giok-he lagi tertarik oleh bagian lain dari-pada dinding tebing, yaitu suatu tempat bersih agak jauh di sebelah sana. Ia termangu-mangu sejenak, lalu tiba-tiba bergumam perlahan, "Ucapanmu memang betul, Gote. Suhu... Suhu memang benar tidak meninggal!"

Nadanya ternyata lebih banyak mengandung rasa kecewa dari-pada rasa gembira. Memangnya dia kecewa akan urusan apa? Karena iri terhadap kecerdikan Lamkiong Peng atau urusan lain? Tapi apa pun juga dalam keadaan dan di tempat begini tentu saja tidak ada orang yang memperhatikan maksud yang terkandung dalam ucapannya itu.

Serentak Liong Hui bertanya dengan gembira dan bersemangat, "Hah, kau bilang ucapan Gote benar dan Suhu tidak meninggal dunia?"

Giok-he mengangguk sambil menuding bagian batu gunung yang agak bersih di sana. Katanya, "Ya, Suhu tidak meninggal. Setiba di sini beliau melihat tulisan ini, segera beliau menggunakan ginkang dan naik ke atas."

Dia bicara dengan mantap seakan-akan melihat sendiri apa yang terjadi. Katanya pula, "Jika tulisan yang terukir ini ditujukan kepada Suhu, dengan sendirinya orang yang meninggalkan tulisan ini sudah memperhitungkan Suhu pasti akan datang kemari. Dan kalau dipandang pada bagian tebing ini, orang yang naik ke atas pasti tidak menggunakan kungfu sebangsa ´cecak merayap dinding´ segala, sebab kungfu ini harus dilakukan dengan merayap ke atas dengan punggung menempel dinding. Tapi dari bekas telapak tangan yang terlihat di sini, jelas orang naik ke atas dengan muka menghadap dinding. Kalian sama tahu, di kolong langit ini hanya kungfu ´Sui-hun-hu´ (Mengapung Mengikuti Awan) dari Sin-liong-bun kita yang merupakan ginkang maha-hebat untuk merayap ke atas dengan muka menghadap dinding. Berdasarkan semua ini, orang yang mendaki ke atas siapa lagi kalau bukan Suhu?!"

Serentak Liong Hui bersorak gembira, "Ya, Suhu tidak meninggal...!"

Ciok Tim juga bergirang.

"Oh, Suhu tidak...," saking girangnya So-so lantas menangis malah.

Sebaliknya Giok-he lantas menghela napas menyesal.

"Jika Suhu jelas tidak meninggal, apa yang kau sesalkan?" tanya Liong Hui.

"Kau tahu apa?" sahut Giok-he sambil memandang lagi tulisan tadi. "Setiba di sini Suhu memang tidak mengalami sesuatu, tapi setelah beliau naik ke atas berarti akan menghadapi bahaya. Masakah tidak kau lihat bahwa semua ini pada hakikatnya cuma sebuah perangkap?"

"Perangkap?" Liong Hui menegas.

"Ya, perangkap!" kata Giok-he. "Lebih dulu orang menjangkitkan emosi dengan kata-katanya yang menantang, lalu menyusutkan lweekang Suhu, kemudian memancingnya ke sini. Ketiga hal ini satu per satu telah diatur dengan sangat rapi," ia menghela napas pula dan menyambung, "Pantaslah Suhu lantas terjebak."

Seketika rasa girang Liong Hui bertiga berubah menjadi khawatir lagi.

Dengan prihatin Ciok Tim berkata, "Jika demikian, jadi keterangan nona she Yap yang mengatakan Tan-hong sudah mati mungkin juga dusta belaka?"

"Ya, sangat mungkin," ujar Giok-he sambil mengangguk. "Dengan alasan ini dia minta Suhu menyusutkan lweekang-nya, juga berdasarkan ini melemahkan pengaruh Suhu sehingga beliau terpencil sendirian, lalu dipancing lagi ke sini. Ai, setiba di sini, menuruti watak beliau yang keras, biar pun di depan sana sudah menanti gunung golok dan lautan minyak mendidih juga akan diterjangnya. Maka... maka beliau pun terjebak!"

Belum habis ucapannya, mendadak So-so melompat ke kaki dinding tebing, terus merayap ke atas dengan cepat. Dipandang dari bawah, bajunya mengembung perlahan ke atas sehingga mirip gumpalan awan yang mengapung.

"Simoay, biarkan aku saja yang naik ke sana!" seru Ciok Tim sambil menyusul ke sana. Namun So-so sudah cukup tinggi merayap ke atas.

Giok-he lantas mencegah Ciok Tim. Ia berkata, "Tempat belasan tombak tingginya mungkin tidak menjadi soal bagi Simoay, jangan khawatir. Biarkan Simoay melihat apa yang tertulis di atas!"

Ciok Tim tidak membantah lagi. Ia mendongak ke atas dengan rasa khawatir. Semakin tinggi semakin gelap, gerak tubuh So-so juga mulai lamban.

"Sudah kau lihat sesuatu, Simoay?!" seru Giok-he sambil menengadah.

"Ya, dapat kulihat dengan jelas!" jawab So-so.

"Hati-hati, Simoay!" seru Ciok Tim.

So-so tidak menjawab.

"Setelah membaca lekas turun kemari!" seru Giok-he pula. Belum lenyap suaranya, dilihatnya So-so malah merayap perlahan ke atas lagi.

"Ha, Simoay, untuk apa naik ke atas lagi?!" teriak Liong Hui. Sampai di sini mendadak ia menjerit khawatir, "Wah, celaka!"

Tertampaklah tubuh So-so baru merayap sedikit ke atas, lantas tidak tahan lagi dan segera merosot ke bawah. Dengan khawatir Ciok Tim berlari maju dan siap di bawah.

Liong Hui dan Giok-he juga berteriak, "Awas, Simoay!"

Sementara itu tubuh So-so sudah jatuh ke bawah. Meski dia berusaha mengimbangi dengan ginkang-nya, tapi terperosot dari tempat setinggi itu tetap sangat berbahaya. Dengan memasang kuda-kuda yang kuat, sepenuh tenaga Ciok Tim menahan tubuh So-so yang anjlok ke bawah itu.

Ciok Tim tergetar mundur sempoyongan, akhirnya dapat berdiri tegak lagi. Siapa tahu begitu kaki menyentuh tanah, So-so lantas mendorongnya sehingga Ciok Tim tertolak dua-tiga tindak lagi. Karuan ia melenggong. Di bawah cahaya obor kelihatan mukanya sebentar merah sebentar pucat, jelas sangat tidak enak perasaannya.

So-so memandangnya sekejap. Mendadak ia menghela napas dan menunduk, lalu berucap perlahan, "Maaf, terima-kasih atas pertolonganmu!" Hatinya bajik dan tidak suka melukai perasaan orang lain. Apalagi tindakan Ciok Tim itu adalah karena ingin menolongnya, dengan sendirinya ia merasa tidak enak juga.

Giok-he memandang kedua muda-mudi itu, sedangkan Liong Hui sama sekali tidak memperhatikan persoalan pelik antara anak muda itu.

Liong Hui lantas bertanya, "Simoay, apa yang tertulis di atas? Sudah kau lihat dengan jelas, bukan?"

"Ya, sudah kulihat dengan jelas," jawab So-so lirih sambil mengangkat kepala, tampaknya sangat kesal.

"Apa yang tertulis di sana?" tanya Liong Hui tak sabar.

Perlahan So-so lantas menguraikan apa yang dibacanya tadi, ‘Liong Po-si, engkau jadi naik ke sini? Jika demikian jelaslah kungfu-mu tidak telantar. Turunlah kembali lurus ke bawah, lalu melangkah tujuh belas tindak ke kiri. Di kaki tebing ada tetumbuhan akar-akaran. Singkap tetumbuhan itu, maka akan terlihat celah-celah yang cukup diterobos tubuh satu orang. Langsung masuk ke sana, setiba di ujung dapatlah kau lihat diriku’.

So-so berhenti sejenak, tapi Liong Hui lantas melangkah ke sebelah kiri sana sambil berhitung, "Satu, dua, tiga...."

Cepat So-so memanggilnya, "Nanti dulu, Toako, masih ada...."

"Ada apa? Maksudmu belum-habis tulisan yang kau baca itu?" tanya Liong Hui sambil menoleh.

So-so mengangguk, "Ya, masih ada satu baris yang berbunyi: 'Dan bila engkau masih ada sisa tenaga, naik lima tombak lagi ke atas. Di situ juga ada tulisan, apakah kau ingin tahu?'

"Menuruti watak Suhu, biar pun mengadu jiwa juga pasti akan naik ke atas," ujar Giok-he dengan gegetun.

"Tapi... tapi aku tidak sanggup lagi naik ke atas!" ucap So-so dengan menunduk, tampaknya sangat kecewa.

Liong Hui tertegun, katanya kemudian, "Ginkang Simoay jauh lebih hebat dari-padaku, jika dia tidak mampu naik ke atas apalagi aku."

"Biar kucoba," seru Ciok Tim.

"Ginkang Toaso lebih bagus dari-padamu, biarkan dia saja yang naik ke atas," ujar Liong Hui.

"Tidak perlu dicoba lagi," sela So-so, "Toaso juga takkan mampu naik ke atas. Setelah mencapai ketinggian sana, untuk merayap sejengkal lagi rasanya terlebih sulit dari-pada merayap setombak dari bawah sini. Kalau ingin mendaki lima tombak yang disebutkan itu, biar pun kulatih sepuluh tahun lagi juga tidak akan sanggup."

"Ya, dapat kupahami keteranganmu ini," kata Giok-he sambil mengangguk.

Hendaknya diketahui, ginkang sebagai ‘cecak merayap’ dan ‘awan mengapung’ segala itu pada dasarnya cuma dorongan tenaga yang dikerahkan seketika. Bila-mana sudah mencapai ketinggian dari tenaga yang dikerahkan, untuk naik lebih tinggi lagi jelas sangat sulit. Dengan sendirinya Liong Hui dan Ciok Tim juga dapat memahami dalil ini.

"Lantas bagaimana?" tanya Liong Hui kemudian.

"Jika tidak ada jalan lain, betapa pun harus kucoba!" ujar Ciok Tim.

"Bila tidak ada jalan lain, biar pun kau coba juga percuma," kata Giok-he. "Lebih baik kita periksa celah-celah di sebelah kiri yang disebutnya itu."

"Betul, harus kita periksa, sesungguhnya siapakah yang meninggalkan tulisan itu?" seru Liong Hui.

Giok-he tersenyum. "Tanpa melihatnya juga kutahu siapa dia."

"Oo, memangnya siapa?" tanya Liong Hui.

"Kecuali Tan-hong Yap Jiu-pek, masakah ada orang lain? Selain Yap Jiu-pek, masakah ada orang berani bicara seketus itu terhadap Suhu?"

"Tapi... bukankah Yap Jiu-pek sudah mati?" Liong Hui merasa sangsi.

"Kan sudah kukatakan sejak tadi bahwa semua ini cuma perangkap saja," kata Giok-he. "Cuma di mana letak ujung tali jeratan ini, sejauh ini belum kita ketahui, kecuali... kecuali jika dapat kulihat sebenarnya apa yang tertulis di tempat paling atas sana."

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong dari ketinggian tebing yang tak terlihat jelas itu terjulur seutas tali panjang. Karuan So-so berempat berteriak kaget. Mereka memandangi tali yang terjulur di depan mereka ini dengan melongo dan tak dapat bersuara sampai sekian lamanya. Keempat orang itu saling pandang dengan sangsi dan ngeri. Ternyata di atas tebing yang tak terlihat jelas itu terdapat jejak manusia.

Dengan suara tertahan akhirnya Ciok Tim berkata, "Yang melemparkan tali ke bawah ini entah apakah juga orang yang menyalakan obor ini?"

Giok-he mengangguk, "Ya, kukira orang yang sama."

Kening Ciok Tim bekernyit rapat. Katanya pula, "Tapi orang ini sebenarnya kawan atau lawan, sungguh sukar untuk diraba. Jika maksud orang ini tidak jahat, dengan sendirinya boleh kita naik ke atas dengan memanjat tali. Kalau sebaliknya... wah, keadaan kita saat ini sungguh sangat berbahaya."

Giok-he tersenyum dan menggeleng. "Jika dipandang dari kelihaian orang ini, jika dia bermaksud membikin susah kita, untuk apa membuang tenaga percuma cara begini?"

"Jika begitu biarlah kucoba naik dulu ke atas," sela So-so.

"Biar kutemanimu naik ke atas. Jika terjadi apa-apa jadi dapat saling membantu," tukas Ciok Tim. Agaknya dia telah melupakan kemungkinan bahaya.

"Bukankah kau bilang berbahaya?" kata So-so. Tiba-tiba ia menyesal karena ucapannya terlalu menyinggung perasaan, maka cepat ia menyambung, "Jika ada bahaya, kan lebih baik dihadapi seorang saja?"

Ciok Tim menunduk kikuk.

Giok-he lantas menyambung, "Simoay sudah naik satu kali, sekali ini biar aku saja yang naik ke atas."

"Betul, sekali ini giliran kita," tukas Liong Hui.

Mendadak Ciok Tim membusungkan dada dan berseru. "Biar kutemani Toaso ke atas!" Agar kelihatan gagah berani di depan orang yang dirindukannya, biar pun sekarang di atas sana terpasang perangkap maut juga tak terpikir lagi olehnya.

"Boleh juga Site ikut bersamaku," ucap Giok-he.

Segera ia melompat ke atas setinggi dua tiga tombak. Diraihnya tali itu dengan kuat, lalu ia berpaling ke bawah dan berseru. "Toako, bila aku jatuh harus kau tangkap diriku dengan baik!"

"Jangan khawatir," segera Liong Hui siap memasang kuda-kuda di bawah.

Waktu Ciok Tim ikut melompat ke atas, akhirnya So-so berucap juga, "Hati-hati!" Meski lirih suaranya, namun cukup jelas didengar Ciok Tim.

Seketika Ciok Tim berbesar hati dan semangat terbangkit. Serunya, "Jangan khawatir!" Di tengah remang malam kelihatan bayangannya semakin cepat naik ke atas, hanya sebentar saja lantas menghilang dalam kegelapan.

Liong Hui mendongak sampai sekian lama. Mendadak ia berkata, "Apakah tidak ada sesuatu bahaya di atas?"

"Bukankah Toaso sudah bilang kalau kepandaian orang itu jauh di atas kita? Jika dia mau membikin susah kita, buat apa dia bersusah payah menjebak kita?" ujar So-so.

"Tapi sudah sekian lama mereka tidak kelihatan," kata Liong Hui. Segera ia berteriak, "Hei, adakah kalian menemukan sesuatu?!"

Namun suasana sunyi senyap, tiada sesuatu suara jawaban.

Bekernyit kening Liong Hui, gumamnya, "Wah, masakah mereka tidak mendengar suaraku?"

Sekali lagi dia berteriak terlebih keras sehingga anak telinga So-so yang berdiri di sampingnya ikut mendengung. Namun puncak karang di atas tetap sunyi tanpa sesuatu jawaban, hanya desir angin yang mengumandangkan suara Liong Hui itu ke empat penjuru.

So-so juga mulai gelisah. Ia sangsi, biar pun puncak tebing ini sangat tinggi dan menjulang ke tengah awan, namun sekeliling tiada barang penghalang lain, masakah suara teriakan mereka tidak terdengar? Diam-diam ia berkhawatir bagi mereka, tapi tidak berani diutarakannya. Ia coba melirik Liong Hui. Di bawah cahaya obor yang redup, air muka Liong Hui kelihatan juga berubah.

"Coba, kau bilang Toaso berdua takkan menemukan bahaya, tapi... tapi mengapa mereka tidak menjawab suaraku?" kata Liong Hui kemudian.

So-so tidak tahu cara bagaimana harus menjawab. Sampai sekian lama baru ia menghela napas perlahan dan berucap, "Jika ada bahaya seharusnya mereka juga bersuara memberi-tahukan kepada kita. Tapi sampai sekarang tetap tiada sesuatu gerak-gerik apa pun di atas, sungguh sangat aneh...."

"Ya, sungguh aneh," tukas Liong Hui sambil memegang tali panjang yang terjulur itu. Mendadak ia melenggong, tangan pun agak gemetar.

So-so menjadi heran, "He, Toako, ada apa?"

Liong Hui berpaling dengan wajah penuh rasa kejut dan khawatir, "Coba kau lihat!" Berbareng tangannya bergerak, tali yang terjulur itu dapat diayunnya hingga melayang jauh seperti tidak dibebani sesuatu.

Cepat So-so ikut memegang tali itu dan digoyangkan dua-tiga kali. Betul juga, di atas tidak terasa diganduli sesuatu. Dengan gugup ia menyurut mundur dan mendongak ke atas. Ia berucap dengan suara gemetar, "Ya, mengapa tali ini bebas lepas? Ke... ke manakah mereka?"

"Bukankah kau bilang tidak ada bahaya?!" seru Liong Hui dengan air muka kelam.

So-so tertegun. Mendadak ia mengertak gigi dan meloncat ke atas, dengan cepat ia pun merambat ke atas....

Kiranya tadi Ciok Tim terus ikut Giok-he merambat ke atas dengan cepat dan gesit. Hatinya terasa hangat ketika mendengar pesan So-so kepadanya agar hati-hati. Ia pikir, "Betapa pun dia tetap memperhatikan diriku." Karena itulah caranya merambat pun bertambah semangat dan juga tambah cepat.

Ketika mencapai belasan tombak tingginya, tiba-tiba terdengar Kwe Giok-he berkata di atas, "Tulisan inilah yang dilihat Simoay tadi. Ai, daya ingatnya sungguh sangat kuat, dia dapat menghafalkan tanpa kurang satu huruf pun."

"Ya, daya ingatnya memang hebat," sahut Ciok Tim. Sekilas ia baca tulisan yang dimaksud di dinding tebing, lalu merambat lagi ke atas dan diam-diam membatin pula, "Betapa pun Simoay tetap memperhatikan diriku. Meski terkadang dia suka bersikap kasar padaku, hal itu hanya karena keangkuhan seorang gadis saja. Apa pun juga sudah lima tahunan kami tinggal bersama, mustahil dia tidak menaruh sesuatu perasaan padaku!"

Berpikir demikian, tersembul juga senyuman pada ujung mulutnya. Selagi dia tenggelam dalam perasaan bahagia, mendadak dahinya menyentuh sesuatu. Ia terkejut dan mendongak, kiranya kaki Kwe Giok-he. Kaki yang bersepatu kain sutera hijau bersulam bunga ungu kecil, indah dan serasi membungkus kakinya yang putih. Ujung sepatu yang agak mencuat ke atas itu dihiasi sebiji mutiara mengkilat.

Sekarang kedua biji mutiara itu tepat berada di depan mata Ciok Tim. Semacam bau harum yang sukar dilukiskan sayup-sayup terbawa angin tercium oleh hidung Ciok Tim. Lebih ke atas lagi adalah ujung kaki celana yang juga bersulam bunga kecil menutupi permukaan kaki. Seketika sorot mata Ciok Tim terhenti di situ. Baru sekarang ia tahu sebab apa sang Toaso yang kecantikannya termasyhur di dunia kangouw ini tidak suka memakai sepatu bersol tipis yang biasanya digunakan orang perempuan kalangan kangouw atau sejenis sepatu yang bagian bawahnya tersembunyi senjata tajam.

Hal ini serupa kebiasaan guru mereka yang tetap suka memaki sepatu sol tebal yang biasa dipakai kaum pembesar negeri itu. Hal ini disebabkan sepatu sol tinggi dapat melambangkan kebesaran dan kewibawaannya dan jelas-jelas menggariskan perbedaannya dengan orang persilatan umumnya. Hanya sepatu bersol tipis yang ringan inilah dapat menonjolkan keindahan kaki seorang perempuan. Melihat sepatu bagus dengan kaki yang indah ini, seketika Ciok Tim jadi terkesima.

Tiba-tiba terdengar Giok-he menegur dengan tertawa, "Apa yang kau lihat?"

Muka Ciok Tim menjadi merah.

"Lekas naik kemari dan bacalah tulisan di sini," terdengar Giok-he berseru lagi sambil merambat ke atas.

Waktu Ciok Tim menengadah, dilihatnya di tengah keremangan wajah yang cantik itu sedang tersenyum kepadanya. Dengan kikuk ia berdehem dan menjawab, "Apa... apa yang tertulis di situ?"

"Naiklah dan baca sendiri," kata Giok-he sambil merapatkan tubuhnya ke dinding tebing, dengan begitu ada tempat luang untuk Ciok Tim naik ke situ.

Segera Ciok Tim ikut merambat ke atas. Ia tidak berani memandang langsung kepada Giok-he, tapi lantas membaca tulisan yang terukir di dinding. Di situ tertulis: ‘Liong Po-si, akhirnya kau datang juga ke sini. Bagus sekali, kungfu-mu memang tidak telantar. Kini jika kau naik lagi sedikit dan berjalan lima belas langkah ke kanan juga terdapat sebuah celah-celah. Jalan tembus ini terlebih dekat, cuma lebih sulit dilalui. Namun bila engkau mendaki tujuh tombak lagi ke atas, akan kau temukan sebuah jalan yang terlebih dekat. Cuma engkau jangan memaksakan kemauanmu untuk menempuh jalan yang sukar ditempuh, ambil saja jalan yang mudah dilalui, akhirnya kan tetap dapat berjumpa denganku’.

Meski keadaan cukup kelam, namun dapatlah Ciok Tim membaca jelas dan cepat tulisan di dinding itu. Malahan berbareng dengan itu dirasakan bau harum pun semakin menusuk hidung. Tanpa terasa terkenang olehnya kejadian masa lampau. Waktu itu dia baru masuk perguruan Sin-liong, baru berumur sepuluh. Usia Kwe Giok-he lebih tua dua-tiga tahun.

Pada masa emas anak-anak mereka itu, meski berada di bawah asuhan guru yang keras, mereka pun pernah bermain-main sebagaimana layaknya anak-anak umumnya. Karena pergaulan dekat dan teman bermain setiap hari itu, diam-diam ia mencintai kakak seperguruan yang lebih pintar dan juga lebih tua dua tahun dari-padanya itu. Cuma cinta itu boleh dikatakan cinta suci murni anak-anak, cinta antara kakak dan adik, suci bersih tanpa noda. Sampai dia sudah agak lebih besar rasa cinta itu tetap disimpannya di dalam hati.

Pada waktu dia berumur lima belas barulah Ong So-so juga masuk perguruan. Itulah suatu hari yang cerah. Biar pun kejadian itu sudah lima tahun berselang, namun Ciok Tim masih ingat betapa cemerlang cahaya bintang pada malam itu. Malam itu Put-si-sin-liong Liong Po-si mengadakan beberapa meja pesta dan mengumumkan dua peristiwa menggembirakan. Pertama ialah diterimanya seorang murid perempuan baru, kedua sekaligus diumumkan perjodohan murid utamanya, yaitu Liong Hui dengan murid kedua, Kwe Giok-he.

Pada malam itu juga diam-diam Ciok Tim mengucurkan air mata di kamarnya sendiri. Sejak itu sedapatnya dia ingin melupakan cintanya yang suci murni itu, sebab si dia sudah dipersunting oleh Toasuheng yang dihormat dan diseganinya itu. Selanjutnya si dia telah menjadi Toaso (kakak ipar) dan bukan lagi Suci (kakak guru) kecilnya. Dia terpaksa harus melupakan perasaannya itu!

Maka sedapatnya ia berusaha menjauhi si dia serta menghindari bicara dengan mereka. Karena itulah lambat-laun Ciok Tim berubah menjadi pendiam dan suka menyendiri. Pada suatu pagi hari ketika mereka bertemu di lapangan latihan, kebetulan Ciok Tim bertemu sendirian dengan Giok-he. Ia ingin menghindarinya, tapi Giok-he sempat memanggilnya dan menegur.

"Mengapa akhir-akhir ini engkau selalu menghindari diriku? Memangnya aku bukan lagi Suci cilikmu?"

Ciok Tim hanya menggeleng saja tanpa bicara, dan orang lain pun keburu datang. Untuk seterusnya mereka pun tidak pernah bertemu berduaan lagi, sampai kini....

Kini peristiwa lampau seakan-akan terbayang kembali dalam benak Ciok Tim, rasanya Kwe Giok-he seperti menggelendot di sampingnya dengan baunya yang harum itu dan membuatnya lupa si dia adalah ‘Toaso’-nya. Ketika ia berpaling, kedua orang beradu pandang. Tanpa terasa ia menghela napas.

“Siau-suci...,” Ciok Tim memanggil perlahan.

Panggilan ini sangat perlahan, namun serupa sepotong batu raksasa dilempar ke tengah laut dan menimbulkan gelombang dalam hati Kwe Giok-he yang tenang itu. Giok-he mengerling sayu wajah Ciok Tim dan entah apa yang terpikir olehnya, ia cuma perlahan meraba sekali muka Ciok Tim.

"Engkau agak kurus," kata Giok-he.

Bergolak juga hati Ciok Tim, namun di luarnya sedapatnya ia berlagak tenang. Katanya, "Suhu... Suhu tentu naik ke atas!"

Ia tidak berani memandangnya lagi, tapi lantas mendahului merambat tali naik ke atas. Jarak yang tidak sampai sepuluh tombak itu dengan cepat dapat dicapainya. Di atas memang sudah sampai ujungnya, tanpa pikir ia melompat ke atas. Puncak tebing ini sungguh sangat aneh, lapang, datar, serupa ditabas oleh senjata tajam.

Selagi Ciok Tim merasa heran, tiba-tiba dari belakang sudah berjangkit bisikan Giok-he yang perlahan. Meski timbul juga hasrat di hati Ciok Tim, mana berani ia menoleh? Dia tetap memandang lurus ke depan. Angin meniup menerbangkan rambut di pelipis Giok-he ke tepi telinga dan bawah dagu Ciok Tim.

Terdengar keluhan Giok-he perlahan, "Kutahu, sejak kuikut Toakomu senantiasa engkau lantas menghindari diriku. Hari itu waktu kita bertemu di tempat latihan, bahkan engkau tidak berani bicara padaku. Mengapa engkau tidak berani bicara padaku? Mengapa engkau tidak serupa dulu?"

Pada saat itulah terdengar gema suara Liong Hui dari bawah, "Adakah melihat sesuatu di atas?!"

Ciok Tim terkesiap dan berpaling, seketika bibirnya menyentuh ujung mulut Giok-he yang manis dan hangat. Keduanya tidak bersuara, juga tidak bergerak lagi, keduanya tidak ada yang menjawab suara Liong Hui itu.

Giok-he menghembus napas panjang dan berbisik pula, "Apakah masih ingat waktu di bawah pohon mangga di belakang perkampungan dahulu...?"

Ciok Tim mengangguk. "Ya, waktu itu ku... kupeluk dirimu dan minta engkau bermain pengantin baru denganku."

"Kau minta aku menjadi mempelai perempuan dan masuk kamar pengantin bersamamu, tapi aku tidak mau."

"Ya kau bilang usiamu lebih tua dari-padaku, hanya dapat menjadi Ciciku dan tidak dapat menjadi pengantinku."

"Dan lantas kau peluk diriku, kau paksa dan... dan aku...."

Sekonyong-konyong terdengar lagi bentakan dari bawah. "Hei, kalian mendengar suaraku tidak?!"

Hati Ciok Tim terkesiap pula. Mendadak dirasakannya bibir yang hangat menyentuh bibirnya.

Lalu terdengar Giok-he berkata pula perlahan, "Waktu itu serupa sekarang ini, engkau telah mencium aku...."

"Namun kemudian engkau menikah dengan Toako dan menjadi Toaso-ku!" Ciok Tim tidak bergerak, sebab pergolakan darah panas anak muda membuatnya hampir tidak tahan.

"Meski kunikah dengan Toakomu, tapi... masakah engkau tidak tahu hatiku?"

"Hati... hatimu...?"

"Dalam hal apa aku tidak membelamu? Terkadang aku pun ikut bicara bagimu bila ucapan Simoay terlalu keras padamu. Masakah engkau tidak tahu sebab apa aku berbuat demikian?"

"Jika... jika begitu, mengapa engkau mau menikah dengan Toako?" tanya Ciok Tim.

Giok-he mengerling sendu, ucapnya lirih, "Usiaku lebih tua, aku juga Sucimu. Sekali pun aku mau menikah denganmu juga takkan diluluskan oleh Suhu."

"Semula kukira engkau ingin menjadi istri murid pewaris Sin-liong-bun. Karena ingin berkuasa mewarisi Ci-hau-san-ceng kelak, maka engkau menikah dengan Toako, sebab... sebab kutahu benar watakmu sama sekali berbeda dari-pada pribadi Toako yang keras itu."

Air muka Giok-he tampak berubah, seperti isi hatinya tepat kena diungkap orang, serupa juga orang yang merasa penasaran. Ia menghela napas panjang dan bertanya, "Apa benar semula engkau berpikir demikian?"

"Ya, tapi sekarang kutahu pikiranku itu keliru," jawab Ciok Tim sambil mengangguk.

Giok-he tersenyum. Mendadak ia berbisik lagi, "Meski kita tidak dapat menjadi suami-istri, tapi... tapi selanjutnya kalau setiap saat kita masih dapat ber... bertemu, kan sama saja."

Terguncang juga perasaan Ciok Tim. Ia pandang orang dengan termangu, sampai sekian lama napas pun seakan-akan terhenti.

Mendadak terdengar lagi kumandang suara di bawah, "Simoay, mungkin ada bahaya di atas, biarlah aku naik dulu!"

Ciok Tim terkejut! Cepat ia melompat mundur dan berdiri di samping sepotong batu karang di tepi puncak tebing itu. Hampir pada saat yang sama bayangan Ong So-so yang ramping pun melayang ke atas, menyusul tubuh Liong Hui yang kekar juga melompat tiba.

Di bawah cahaya bintang, sorot mata keempat orang saling pandang sekejap, masing-masing sama mengunjuk rasa tercengang. Dengan sendirinya pada sorot mata Ciok Tim juga tertampil rasa kikuk dan takut.

Liong Hui dan So-so sama bersuara heran, "Kiranya kalian baik-baik saja di atas?!" ucap Liong Hui.