Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 02

Meski bayangan sang guru sudah menghilang, Lamkiong Peng masih berdiri mematung sambil memandangi awan yang mengambang di udara itu. Meski wajahnya kaku dingin, namun sorot matanya memancarkan perasaan hangat.

Terdengar Kwe Giok-he yang berdiri di belakangnya lagi bergumam, "Yap-siang-jiu-loh... Liong-gim-sin-im...?" Tak tersangka antara Suhu dan Tan-hong Yap Jiu-pek memang terjalin...?"

Tiba-tiba Liong Hui berdehem, katanya, "Urusan pribadi Suhu sebaiknya jangan kita bicarakan." Dia mendekati Lamkiong Peng dan berdiri diam sejenak sambil mengelus janggut, lalu memutar balik dan berduduk di atas batu sana serta melamun memandangi awan yang mengapung di udara.

Kwe Giok-he juga memandang Lamkiong Peng sejenak. Mendadak ia menggapai dan memanggil, "Kemari, Simoay!"

Anak dara yang berdiri agak jauh itu mendekat dengan menunduk. Langkahnya kelihatan enteng dan gesit, jelas tidak lemah kungfu-nya. Tapi gerak-geriknya kelihatan malu-malu serupa gadis pingitan, sama sekali tidak ada ciri khas sebagai anak murid Ci-hau-san-ceng atau perkampungan Ci-hau yang disegani. Dengan tangan memainkan ujung baju seperti anak gadis yang takut-takut ia menyapa, "Ada apa, Toaso (kakak ipar)?"

Giok-he tersenyum dan berkata, "Gote datang belakangan, tapi menonjol paling atas sehingga mewarisi pusaka Yap-siang-jiu-loh dari Suhu. Kau gembira atau tidak?"

Anak dara yang memang malu-malu itu tambah likat. Mukanya yang putih lantas bersemu merah, kepalanya menunduk terlebih rendah.

Pemuda kurus yang sejak tadi diam saja mendadak menimbrung, "Bukan saja Simoay merasa gembira, aku juga sangat senang!"

Dengan wajah berseri Kwe Giok-he memandang mereka kian kemari, lalu berkata, "Kalian sungguh dua sejoli yang setimpal, sampai kata hati keduanya juga sama. Pantas orang kangouw suka merangkai Ciok Tim dan So-so menjadi satu dan menyebut mereka sebagai Liong-bun-siang-kiam (Sepasang Pedang Keluarga Liong), cuma sayang...." Sampai di sini ia lantas berhenti dan cuma berdehem perlahan saja sambil melirik Lamkiong Peng.

Ciok Tim, pemuda kurus itu juga memandang ke arah Lamkiong Peng. Di antara alis matanya samar-samar kelihatan menampilkan rasa iri, tapi dengan lantang ia lantas berseru, "Tapi selanjutnya bila ditambah Gote, mungkin orang kangouw akan menyebut kami sebagai Liong-bun-sam-kiam (Tiga Pedang Keluarga Liong)!"

"Rupanya engkau belum tahu," kata Giok-he dengan tertawa, "meski belum lama Gote masuk perguruan kita, tapi keluarga Lamkiong dari daerah Kanglam sudah lama terkenal sebagai keluarga hartawan, maka sudah lama juga orang Bu-lim sama memberi suatu nama julukan kepada Gote sebagai Hu-kui-sin-liong (Si Naga Sakti Kaya dan Jaya)!"

"Toaso memang berpengetahuan banyak dan berpengalaman luas," kata Ciok Tim dengan tertawa ewa, "Siaute sendiri jarang berkelana di dunia kangouw, pengetahuanku kalau dibandingkan Toaso sungguh selisih terlalu jauh."

Tiba-tiba si berewok Liong Hui menimbrung, "Memang pernah kudengar disebutnya nama Hu-kui-sin-liong, tapi itu cuma sanjung puji dari kalangan piaukiok (perusahaan pengawalan) yang ada hubungan erat dengan grup keluarga Lamkiong, masa kau anggap sungguh-sungguh?"

"Baik, baik, kau lebih tahu dan aku tidak tahu," gerutu Giok-he sambil melotot.

Mestinya Liong Hui hendak omong lagi, tapi demi melihat air muka sang istri yang kurang senang itu, seketika ia urung bicara. Semua orang menjadi bungkam, hanya angin mendesir dan dedaunan gemersik. Awan yang mengambang di udara melayang kian kemari serupa urusan dunia persilatan yang selalu berubah dengan suka dukanya.

Sampai sekian lamanya keempat perempuan berbaju hijau ringkas itu juga tetap berdiri di bawah pohon cemara, hanya terkadang mereka melirik ke arah anak murid Ci-hau-san-ceng ini. Agaknya dapat mereka rasakan juga di antara anak murid keluarga Liong ini terdapat pertentangan dan saling curiga, sebab itulah di antara kerlingan mereka terkadang juga menampilkan rasa menghina dan mencemoohkan.

Sudah cukup lama juga waktu berlalu. Mendadak Liong Hui bangkit dan memandang cuaca. Ia mengucap dengan suara tertahan, "Rasanya kepergian Suhu sudah... sudah lebih setengah jam!"

Kwe Giok-he menjawab, "Engkau selalu tidak sabaran, pantas Suhu tidak mau mewariskan Yap-siang-jiu-loh kepadamu. Coba kau lihat, sedikit pun Gote tidak kelihatan gelisah."

Mau tak mau berubah juga air muka Liong Hui. Ia mengucap dengan tergagap, "Toh sesama saudara sendiri, diwariskan kepada... kepada siapa, kan sama saja."

"Hm, tentu saja sama," jengek Giok-he.

Lamkiong Peng tampak adem ayem saja. Ia tersenyum dan mendekati Kwe Giok-he, lalu berkata dengan tersenyum, "Toaso, apakah kau tahu sebab apa aku tidak gelisah?" Meski dia bicara dengan tersenyum, namun ucapannya tegas dan mantap.

Giok-he tersenyum dan menjawab, "Oh, dari... dari mana kutahu?"

Mendadak Liong Hui menyela, "Masa kau tahu hati Gote tidak gelisah? Sebelum jelas kalah menang Suhu, setiap orang pasti gelisah."

"Setiap orang memang gelisah, cuma aku saja tidak," ujar Lamkiong Peng.

Seketika air muka Ciok Tim dan Liong Hui berubah. Kwe Giok-he lantas mendengus, sedangkan Ong So-so, si anak dara, juga mengernyitkan dahi dan memandang anak muda itu dengan heran.

Perlahan Lamkiong Peng menutur, "Sebabnya aku tidak gelisah adalah karena aku lebih dari-pada yakin bahwa Suhu pasti takkan kalah!"

Mendadak keempat perempuan berbaju hijau di bawah pohon sama mendengus dan melengos ke sana. Giok-he juga mendengus.

Liong Hui lantas bertanya, "Berdasarkan apa kau berani memastikannya? Setelah tenaga dalam Suhu susut sebanyak itu, sungguh hampir tidak ada kesempatan menang bagi beliau, apalagi genduk she Yap itu kelihatan sangat licin dan licik."

"Sebenarnya dalam hal menganalisis sesuatu urusan biasanya Gote sangat meyakinkan, tapi apa yang kau katakan tadi rasanya sukar dipercaya orang!" tukas Ciok Tim tiba-tiba. Dia selalu bicara dengan perlahan, setiap kalimat diucapkan secara teratur seakan-akan khawatir salah omong.

Dengan tersenyum Lamkiong Peng menjawab, "Pukulanku tadi selain berhasil menguji kebenaran keterangan nona she Yap itu dan memang tidak berdusta kepada Suhu, juga dapat kuketahui gerak tubuh Suhu jauh lebih cepat dari-pada nona itu." Dia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan perlahan, "Waktu itu kulancarkan serangan sekaligus kepada mereka berdua. Nona she Yap itu berdiri di sebelah kananku. Meski tangan kanannya memegang pedang, tapi tanpa bergeser dia dapat menangkis pukulanku dengan tangan kiri...."

Dengan telapak tangan kiri ia memberi contoh, lalu menyambung, "Tapi waktu itu Suhu berdiri di sebelah kiriku. Tangan kanan beliau juga memegang pedang. Waktu kupukul dengan sendirinya beliau tidak dapat menangkis dengan pedang yang dipegangnya pada tangan kanan, sebab itulah beliau lalu berputar untuk menangkis seranganku dengan telapak tangan kiri."

Dia bicara dengan teratur dan jelas sehingga tanpa terasa keempat perempuan berbaju hijau itu pun berpaling dan ikut mendengarkan dengan cermat.

"Dalam keadaan begitu," demikian Lamkiong Peng menyambung, "gerak tangan Suhu jelas lebih banyak satu kali dan pada waktu menangkis pukulanku seharusnya juga lebih lambat sejenak dari-pada nona she Yap itu. Namun pada waktu empat tangan beradu, suara yang timbul terjadi berbareng tanpa ada perbedaan mana lebih dulu. Dari kejadian ini, bukankah terbukti gerak tangan Suhu memang lebih cepat dari-pada nona Yap itu? Walau pun selisihnya tidak banyak, tapi pertarungan di antara jago kelas tinggi, selisih sedetik saja dapat menentukan kalah dan menang. Apalagi Suhu sudah berpengalaman beratus kali tempur, maka kubilang beliau tidak mungkin kalah."

Uraian Lamkiong Peng ini membuat si anak dara alias Ong So-so tersenyum cerah. Ciok Tim juga mengangguk-angguk, Kwe Giok-he bertopang dagu dan termenung. Malahan Liong Hui lantas berkeplok tertawa.

"Hahaha, betul! Memang ditimbang dari sudut mana pun, tidak nanti Suhu bisa kalah," kata Liong Hui. Dengan telapak tangannya yang lebar ia tepuk pundak Lamkiong Peng dengan keras sambil berseru, "Gote, engkau memang hebat, sekarang Toako juga tidak perlu cemas lagi."

Mendadak keempat perempuan berbaju hijau ringkas itu sama mendengus. Yang berdiri di ujung kiri lantas bertanya kepada teman di sebelahnya, "Leng-cu, apakah kau cemas?"

Leng-cu menggeleng kepala dan ganti bertanya kepada kawan di sebelahnya lagi, "Apakah kau cemas, Wat-cu?"

"Aku juga tidak cemas!" jawab Wat-cu.

"Jika begitu Ho-cu tentu juga tidak perlu cemas," ujar Leng-cu.

"Aku memang tidak cemas sedikit pun," kata Ho-cu dengan tertawa. "Barangkali An-cu yang lagi cemas."

"Aku pun tidak cemas," kata An-cu yang berdiri di ujung kanan. "Tapi apa sebabnya aku tidak cemas, tidak dapat kuberi-tahukan kepada kalian."

Keempat orang lantas saling pandang, lalu sama mendekap mulut dan tertawa cekikak dan cekikik.

Dengan mendongkol mendadak Liong Hui menjengek, "Hm, kalau tidak mengingat kalian ini orang perempuan, tentu akan kuberi hajar adat!"

Serentak keempat perempuan itu berhenti tertawa.

Kontan An-cu balas menjengek, "Hm, kalau tidak mengingat kau ini orang lelaki, pasti kuberi hajaran setimpal!"

Tidak kepalang gusar Liong Hui. Sambil membentak mendadak ia membalik dan menghantam sepotong batu hijau di sebelahnya.

"Blanggg!" batu itu hancur dan kerikil pun muncrat. Batu karang yang keras itu ternyata terpukul remuk.

"Hm, tenaga pukulan yang hebat!" jengek An-cu. Mendadak tangannya berputar.

"Creng!" pedang dilolosnya. Di tengah berkelebatnya sinar pedang dia terus melompat ke depan sepotong batu lain.

“Blesss!” sekali menusuk tahu-tahu ujung pedangnya telah amblas lebih satu kaki ke dalam batu, serupa bambu menancap di atas lumpur saja.

Selagi Liong Hui terkesiap, terdengar An-cu telah berkata dengan tertawa, "Hah, rupanya batu di sini sangat lunak!"

"Ilmu pedang hebat!" seru Kwe Giok-he tiba-tiba. Dengan tersenyum ia mendekati An-cu dan berucap, "Taci, bolehkah aku pun mencobanya?"

An-cu tampak melengak. Sebelum dia menjawab, mendadak Kwe Giok-he turun tangan secepat kilat. Jari tangannya yang putih halus itu mengibas ke iga lawan. Karena terkejut An-cu menggeser ke samping. Meski dapat menghindarkan serangan lawan, tapi pedang tidak sempat ditariknya kembali dan masih tertancap di dalam batu.

Dengan suara halus Giok-he lantas berkata, "Terima-kasih atas kemurahan hatimu. Setelah kucoba segera kukembalikan!"

Perlahan ia lantas menarik pedang itu dari jepitan batu. Dipandangnya pedang itu dengan cermat. Tampaknya dia lagi mengamat-amati pedang yang dipegangnya, tapi sebenarnya sedang menyelami batu gunung itu. Sejenak kemudian dia tersenyum manis lagi. Perlahan ia angkat pedang ke atas, sekali berputar pedang lantas disorong ke depan.

“Blesss!” kembali terdengar suara perlahan, badan pedang amblas lagi ke dalam batu hampir separuh.

Selagi keempat perempuan berbaju hijau itu terkesiap, dengan suara lembut Giok-he berkata pula, "Benar juga batu di sini sangat lunak seperti tahu!" Lalu pedang ditariknya kembali. Perlahan ia mendekati An-cu dan mengembalikan pedang itu.

Air muka An-cu sebentar merah sebentar pucat, jantung pun berdetak. Tanpa bicara ia terima kembali pedang itu dan melangkah ke tempat semula.

Dengan suara lembut Giok-he berkata pula, "Kuharap engkau jangan kesal. Meski tusukan pedangku kelihatan jauh lebih dalam, padahal ilmu pedang dan tenagaku selisih tidak terlalu banyak dari-padamu."

Diam-diam ia bersyukur telah dapat mengelabui lawan dengan cara yang licik. Kiranya pedang yang ditusukkannya itu tadi mengulangi lagi tempat yang ditusuk An-cu semula. Jadi sesungguhnya dia cuma menambah dalam sebagian saja tusukannya itu, namun kelihatannya menjadi amblas jauh lebih banyak dari-pada tusukan An-cu.

Dengan sendirinya An-cu tidak memperhatikan hal ini. Dengan gemas ia kembali ke tempatnya tadi. Mendadak ia berpaling dan mendengus, "Hm, mungkin betul kungfu-mu lebih tinggi dari-padaku, tapi gurumu...? Hm, kukira kalian tak perlu lagi menunggunya."

Serentak air muka Lamkiong Peng, Liong Hui, Ciok Tim, Kwe Giok-he dan Ong So-so sama berubah.

"Apa katamu?!" bentak Liong Hui sambil melompat maju.

An-cu seperti mau bicara lagi, tapi dia keburu ditarik mundur oleh ketiga orang kawannya.

Tiba-tiba Kwe Giok-he mendekati An-cu. Ia berucap dengan tersenyum, "Orang suka sembarangan mengoceh kan pantas diberi hukuman, betul tidak?" Tanpa menghiraukan lagi apa reaksi lawan, secepat kilat jarinya menotok Koh-cing-hiat di bahu An-cu.

Seketika An-cu melenggong, seperti menyesal akan ucapannya tadi, maka totokan Giok-he itu seperti tidak dirasakannya. Untunglah Wat-cu yang berada di sebelahnya lantas menangkis totokan Giok-he, berbareng ia balas mencengkeram pergelangan tangan lawan.

"Hm, berani kalian melawan diriku?" ucap Giok-he dengan tersenyum. Ia tarik kembali tangannya, menyusul ia menotok lagi iga kanan Wat-cu.

Sembari mendorong ke samping An-cu yang masih berdiri melenggong, Wat-cu juga menggeser.

“Crang! Creng!” menyusul terdengar suara dua kali. Sekaligus Wateu melolos dua buah pedang, terus balas menusuk pinggang Giok-he.

Karena didorong, An-cu tersadar. Mendadak ia pun melolos pedang dan melancarkan serangan gabungan.

"Berhenti...! Berhenti...!" Liong Hui berteriak-teriak.

Siapa tahu, bukannya berhenti, sebaliknya Leng-cu dan Ho-cu juga lantas ikut menerjang maju.

Liong Hui menjadi khawatir. Ia berseru, "Selama hidupku tidak pernah bergebrak dengan orang perempuan, mengapa kalian tidak lekas membantu Toaso?!"

Terpaksa Ong So-so melompat maju. Kontan ia hantam Wat-cu sehingga pertarungan bertambah seru.

Perlahan Ciok Tim melangkah maju. Ia mengucap dengan kening bekernyit, "Suhu melarang kita membawa pedang ke atas gunung, agaknya beliau tidak menghendaki kita main kekerasan. Bila-mana nanti kita disalahkan beliau, lantas bagaimana?"

Liong Hui menjadi ragu. Waktu ia pandang ke sana, terlihat sinar pedang bertaburan. Giok-he dan So-so berdua telah terkurung oleh barisan pedang keempat perempuan berbaju hijau. Meski seketika tidak akan sampai kalah, tapi jelas sukar memperoleh kemenangan.

"Bagaimana pendapatmu, Gote?" tanya Liong Hui kepada Lamkiong Peng.

Anak muda itu memandang sarung pedang hijau yang tergantung di pinggangnya dan menjawab, "Terserah kepada keputusan Toako."

Alis Liong Hui bekernyit rapat dan sukar mengambil keputusan.

Lamkiong Peng lantas berkata pula, "Jika kuduk kita terancam pedang orang, apakah kita pun tidak boleh turun tangan?"

Mendadak Liong Hui berteriak, "Betul! Ayo maju, Samte dan Gote!"

Tapi belum lagi mereka bertindak, mendadak terdengar seorang menjengek di belakang mereka, "Empat lawan dua memang tidak pantas. Jika lima lawan empat, rasanya juga kurang adil! Tampaknya anak murid Tan-hong (burung Hong cantik) dan Sin-liong sama suka main kerubut!"

Cepat Lamkiong Peng berpaling. Dilihatnya di samping peti mati sana entah sejak kapan telah berdiri seorang Tojin (pendeta agama To atau Tao) dengan rambut disanggul tinggi di atas kepala, dahi lebar dan pipi kempot dengan sinar mata setajam mata elang. Tubuhnya yang tinggi dan sangat kurus mengenakan jubah pertapaan berwarna hijau tua. Meski jengekannya terdengar tidak keras, tapi seketika membuat Kwe Giok-he di satu pihak dan para perempuan berbaju hijau di lain pihak sama berhenti bertempur.

"Siapa kau?!" segera Liong Hui membentak.

"Siapa aku? Hm, sampai aku saja tidak kau kenal?" jengek Tojin sanggul tinggi itu sembari mendekati peti mati dengan perlahan.

Kedua lelaki penggotong peti sejak tadi berdiri diam saja. Mendadak mereka membentak dan menghadang di depan si Tojin. Dalam pada itu terdengar kesiur angin lewat, Lamkiong Peng juga memburu maju untuk menjaga peti.

Tojin itu mendengus dan berhenti melangkah. Ia mengamat-amati Lamkiong Peng beberapa kejap, lalu menegur, "Kau mau apa?"

"Dan kau mau apa?" jengek Lamkiong Peng dengan sama ketusnya.

"Haha, bagus, bagus!" mendadak Tojin itu terkekeh dan berputar ke depan Liong Hui, lalu bertanya, "Janji pertemuan gurumu dan Yap Jiu-pek sepuluh tahun yang lalu apakah sudah diselesaikannya?"

Liong Hui jadi melengak. Ia menjawab tergagap, "Dari... dari mana kau tahu?"

"Hahaha, masakah urusan gurumu aku tidak tahu?" seru si Tojin dengan gelak tertawa. Ia lalu menyapu pandang sekeliling situ dan bertanya pula, "Ke mana perginya mereka berdua?"

"Peduli apa denganmu?" jawab Liong Hui dengan kurang senang.

"Hehe, bagus, bagus!" Tojin itu terkekeh pula, lalu berputar ke depan Ciok Tim dan bertanya, "Siapa yang kalah dan siapa yang menang?"

"Tidak tahu!" jawab Ciok Tim perlahan.

Kembali si Tojin terkekeh dan menggeser ke depan keempat perempuan berbaju hijau. Ia lalu bertanya, "Apakah akhirnya Yap Jiu-pek dapat mengalahkan Put-si-sin-liong?"

Keempat perempuan itu saling pandang sekejap, tapi Kwe Giok-he lantas mengikik tawa.

Serentak si Tojin membalik tubuh dan menegur, "Apa yang kau tertawakan?"

"Kutertawa geli karena akhirnya Yap Jiu-pek telah mendahului guruku lebih cepat satu langkah!" sahut Giok-he dengan tersenyum.

"Mendahului apa?" tanya si Tojin.

"Akhirnya dia mati lebih dulu dari-pada guruku!" jawab Giok-he.

Tergetar hati si Tojin, seketika ia melenggong. Sejenak kemudian barulah ia berucap dengan lemas, "Jadi... jadi Yap Jiu-pek sudah... sudah mati?"

"Ya," jawab Giok-he.

Mendadak si Tojin menghela napas panjang, katanya kemudian, "Tak tersangka ucapan Thian-ah Tojin sebelum ajalnya pada dua puluh tahun yang lalu ternyata sangat tepat."

"Ucapan apa?" tanya Liong Hui.

"Sin-liong pasti menangkan Tan-hong...," kata si Tojin dengan menunduk.

Mendadak An-cu, salah seorang perempuan berbaju hijau itu mendengus, "Hm, meski nona Yap sudah meninggal, tapi Put-si-sin-liong juga tidak pernah menang."

Si Tojin menengadah, semangatnya tampak terbangkit. Ia berseru, "Put-si-sin-liong tidak pernah menang...? Memangnya mereka telah gugur bersama?!"

"Ken... omong kosong!" damprat Liong Hui.

Dengan tajam si Tojin menatap Liang Hui dan bertanya sekata demi sekata, "Kau mau bilang ken... apa?"

"Kentut!" teriak Liong Hui.

Mendadak si Tojin melolos pedang yang tergantung di pinggangnya, tapi baru tercabut setengah lantas dilepaskan kembali. Ucapnya, "Meski engkau kurang sopan, tidak boleh aku meniru perbuatanmu." Lalu ia bergelak tertawa.

"Hm, memang ada sementara orang tidak sudi bergebrak dengan kaum muda, akan tetapi... saat ini Put-si-sin-liong justru sedang bertanding dengan murid nona Yap," demikian jengek An-cu.

"Kau bilang Put-si-sin-liong bertanding dengan kaum muda?" si Tojin menegas dengan heran.

"Betul," jawab An-cu tegas.

Segera Liong Hui berteriak, "Biar pun guruku bergebrak dengan murid Yap Jiu-pek, namun lebih dulu beliau telah menotok beberapa Hiat-to tertentu sehingga tenaganya telah susut tujuh bagian. Tindakan beliau yang luhur budi dan jujur ini mungkin jarang ada di dunia ini."

Gemerdep sinar mata si Tojin. Sambil mengelus jenggotnya yang sudah kelabu ia tersenyum, lalu bergumam, "Dia ternyata menyusutkan tenaga sendiri untuk bergebrak dengan orang...?"

"Ya, walau pun begitu beliau tetap akan menang!" seru Liong Hui.

"Apa betul?" ucap si Tojin perlahan.

"Tentu saja...!" teriak Liong Hui pula dan mendadak suaranya berubah lemah, "... betul." Padahal dia tidak yakin akan ucapannya itu dan sesungguhnya lagi berkhawatir.

Tojin itu memandangnya dua-tiga kejap, lalu melirik Lamkiong Peng yang berdiri di samping peti mati. Katanya kemudian, "Sesungguhnya siapa di antara kalian yang menjadi murid utama Put-si-sin-liong?"

"Peduli apa denganmu?!" jawab Liong Hui dengan kurang senang.

"Ah, agaknya dirimu inilah!" kata si Tojin dengan tersenyum.

"Memangnya mau apa jika betul?" jengek Liong Hui.

Mendadak Tojin itu menuding sarung pedang hijau di pinggang Lamkiong Peng dan bertanya, "Jika benar engkau Ciangbun-tecu (Murid Pewaris Ketua) Ci-hau-san-ceng, mengapa pedang Yap-siang-jiu-loh itu berada padanya?"

Pertanyaan si Tojin membuat Liong Hui melenggong. Ia pandang Lamkiong Peng sekejap, lalu berpaling kembali dan menjawab, "Tidak perlu kau ikut campur!"

Tojin itu mendengus. "Hm, jika hari ini gurumu kalah dan tidak kembali lagi, apakah kau tahu siapa yang akan menjadi kepala Ci-hau-san-ceng yang disegani dunia persilatan itu?"

Liong Hui berdiri tegak tanpa menjawab sampai sekian lama. Mendadak ia membentak, "Siapa bilang Suhu-ku takkan kembali lagi? Siapa yang mampu mengalahkan beliau? Put-si-sin-liong selamanya tak termatikan!" Suaranya yang kereng berkumandang jauh dan menimbulkan gema yang sahut-menyahut dari empat penjuru lembah gunung.

Mendadak terdengar seorang menjengek dengan suara tajam, "Siapa bilang di dunia ini tidak ada yang mampu mengalahkan Put-si-sin-liong? Siapa bilang Put-si-sin-liong tak termatikan?"

Hati Lamkiong Peng, Liong Hui dan lain-lain sama tergetar. Cepat mereka berpaling ke sana. Tertampak dari balik kabut sana muncul sesosok bayangan dan akhirnya terlihat jelas ialah Yap Man-jing dengan bajunya yang berkibar tertiup angin laksana dewi kahyangan yang turun dari langit. Pada kedua tangannya jelas memegang dua batang pedang bersinar kilap. Sebatang di antaranya bercahaya hijau kemilau, segera dikenali mereka pedang hijau inilah Yap-siang-jiu-loh yang selama berpuluh tahun tak pernah berpisah dengan Put-si-sin-liong Liong Po-si itu.

Seketika Liong Hui melotot, rambut jenggotnya seakan-akan menegak. Dengan beringas ia memburu ke depan Yap Man-jing dan membentak, "Suhu-ku bagaimana?! Di mana Suhu-ku?!"

"Di mana gurumu saat ini tentu kau tahu sendiri, masakah perlu tanya?" jawab Yap Man-jing ketus.

Tubuh Liong Hui terasa lemas dan hampir saja tidak sanggup berdiri tegak. Air muka Lamkiong Peng mendadak juga berubah pucat lesi seperti mayat. Ciok Tim juga merasa seperti dadanya mendadak digodam orang, sekujur badan serasa kaku, sampai Ong So-so yang berdiri di sampingnya menjerit perlahan terus jatuh kelengar juga tidak diketahuinya. Kwe Giok-he juga terperanjat dan bergemetar. Sedangkan keempat perempuan berbaju hijau tadi terus berlari menyongsong kedatangan Yap Man-jing.

Sambil meraba pedangnya si Tojin tadi pun bergumam, "Akhirnya Put-si-sin-long mati juga...?! Ai, akhirnya dia mati juga!" Suaranya makin lama makin lemah, entah menyesal atau bersyukur? Entah gembira atau berduka?

Dengan sorot matanya yang tajam Yap Man-jing mengawasi mereka dengan tenang.

Mendadak Liong Hui berteriak, "Engkau yang membunuh guruku, bayar jiwa guruku!" Seperti kerbau gila ia terus menerjang ke depan.

Serentak Ciok Tim dan Kwe Giok-he juga memburu maju. Sedangkan Lamkiong Peng baru maju selangkah lantas menyurut mundur kembali ke samping peti mati sambil memandang sekejap si Tojin. Tanpa terasa air matanya menitik. Dalam pada itu Liong Hui sudah menerjang ke depan Yap Man-jing. Sebelah tangannya mencengkeram muka si nona, tangan yang lain terus meraih pedang hijau yang dipegangnya.

Terdengar Yap Man-jing tertawa dingin. Segera Liong Hui pun merasakan pandangannya menjadi silau oleh sinar pedang, tahu-tahu keempat perempuan berbau hijau telah memutar pedang masing-masing dan menghadang di depannya dengan membentuk selapis dinding sinar pedang.

Yap Man-jing sendiri lantas menyurut mundur. Ia pindahkan pedang hijau pada tangan kanan. Mendadak ia membentak, "Kim-liong-cai-thian (Naga Emas di Atas Langit)!"

Berbareng ia mengeluarkan sesuatu benda emas dan diacungkan ke atas, kiranya sebilah belati bertangkai ukiran naga terbuat dari emas. Perlahan ia menurunkan belati naga emas itu sebatas hidung, lalu membentak lagi, "Kawanan naga hendaknya menerima perintah!"

Melihat belati emas itu, air muka Liong Hui berubah pucat lagi. Ia berdiri terkesima, pikirannya menjadi kacau seperti merasa bingung oleh apa yang terjadi ini.

Sinar mata si Tojin tadi tampak gemerdep. Kembali ia bergumam, "Kim-liong-bit-leng (Perintah Rahasia Naga Emas) kembali muncul lagi di dunia kangouw...? Hehe!"

Mendadak terlihat Liong Hui melangkah mundur dua-tiga tindak. Ia lalu bertekuk lutut dan menyembah, meski wajahnya menampilkan rasa gusar dan gemas, suatu tanda menyembahnya itu tidak suka-rela melainkan terpaksa.

Yap Man-jing tertawa dingin pula. Keempat perempuan baju hijau lantas menarik kembali pedangnya. Lalu Yap Man-jing menggeser maju melewati keempat perempuan berbaju hijau. Setiap langkah selalu disertai ketukan pedang yang dipegangnya sehingga menerbitkan suara dentingan yang nyaring memecah suasana yang mencekam ini.

Kwe Giok-he lantas mendekati Liong Hui. Katanya dengan suara tertahan, "Meski Kim-liong-bit-leng berada padanya, tapi...?"

Pandangan Yap Man-jing beralih kepada Kwe Giok-he. Mendadak ia membalik belati emas itu ke bawah dan mendengus, "Hm, apakah kau tidak mau tunduk?"

Giok-he memandang belati yang dipegang Yap Man-jing, lalu menjawab tenang, "Kalau tunduk bagaimana, bila tidak tunduk bagaimana pula?"

Berubah lagi air muka Liong Hui yang masih berlutut. Ia menoleh memandang istrinya sekejap, lalu berucap dengan rada gemetar, "Moaycu (adikku), mana... mana boleh...?"

Mendadak alis Kwe Giok-he menegak. Ia berteriak, "Dia telah membunuh guru kita dan mencuri benda pusaka beliau, apakah kita masih harus tunduk kepada perintahnya?!"

Saat itu Ciok Tim baru saja mengangkat bangun Ong So-so yang jatuh pingsan tadi. Mendadak terlihat bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Giok-he sudah berada di depannya dan bertanya, "Samte dan Simoay, bagaimana dengan kalian, apakah kita harus tunduk kepada perintahnya?"

Ciok Tim melirik sekejap ke arah belati emas yang dipegang Yap Man-jing, lalu menunduk diam tanpa menjawab.

Giok-he lantas mendekati Lamkiong Peng, tanyanya dengan suara gemetar, "Gote, biasanya engkau paling bisa berpikir. Meski Kim-liong-bit-leng merupakan pusaka tanda kebesaran Ci-hau-san-ceng kita, tapi dalam keadaan demikian apakah kita masih harus tunduk kepada perintahnya?"

Dengan wajah dingin Lamkiong Peng memandang sekejap Yap Man-jing.

Sejak tadi Yap Man-jing mengawasi Kwe Giok-he. Tiba-tiba ia mendengus, "Hm, Kim-liong-bit-leng sudah muncul dan kalian berani membangkang atas perintahnya. Masakah Put-si-sin-liong baru saja mati lantas kalian melupakan sumpah yang pernah kalian ucapkan waktu mengangkat guru padanya?"

Rambut Giok-he agak kusut, butiran keringat juga menghiasi dahinya. Biasanya dia banyak akalnya dan seorang periang, menghadapi urusan genting apa pun dapat diselesaikannya dalam suasana senda gurau. Tapi sekarang dia kelihatan gugup dan bingung, agaknya dia telah menduga perintah yang akan diucapkan Yap Man-jing pasti sangat tidak menguntungkan dia.

Liong Hui memandang sekejap lagi kepada istrinya, lalu menghela napas panjang dan berkata, "Jika Kim-liong-bit-leng sudah berada di tanganmu, apa pula yang dapat kukatakan?"

"Hm, mendingan engkau belum lupa kepada ajaran gurumu!" jengek Man-jing.

"Hanya kenal pada Leng (tanda perintah) dan tidak kenal orang (yang memegang tanda perintah)...." ucap Liong Hui dengan lesu. Mendadak ia menengadah dan membentak, "Tapi telah kau bunuh guruku, aku...?" Sampai di sini suaranya menjadi tersendat dan penuh emosi, sukar lagi meneruskan ucapannya.

Lamkiong Peng tetap tenang saja. Ia kemudian berkata, "Kutahu, biar pun Kim-liong-bit-leng berada padamu, tapi di balik urusan ini pasti ada persoalan yang belum diketahui. Kalau tidak, tanda perintah ini pasti akan dimusnahkan oleh Suhu dan tidak nanti dibiarkan jatuh ke tanganmu. Apa pun juga, boleh coba uraikan dulu apa pesan beliau yang akan kau sampaikan kepada kami."

Yap Man-jing menghela napas panjang, katanya, "Nyata hanya engkau saja yang dapat menyelami jalan pikiran Put-si-sin-liong."

Mendadak Kwe Giok-he membentak, "Tapi pesan lisan tidak ada bukti, cara bagaimana kami dapat membedakan benar dan tidaknya pesan yang akan kau sebutkan? Samte, Simoay, perempuan ini telah membunuh Suhu, jika kita tidak menuntut balas apa terhitung manusia?"

Seketika Ciok Tim mengangkat kepala dengan mata melotot sambil mengepal erat kedua tinjunya.

Tiba-tiba Yap Man-jing menjengek, "Hm, kau bilang pesan lisan tanpa bukti...?"

Ia terus menggigit belati emas dengan mulut, lalu mengeluarkan lagi sehelai kertas yang terlipat rajin. Sekali jari menyelentik, kertas itu disambitkan ke depan Liong Hui.

Segera Giok-he memburu maju sambil membentak, "Coba kulihat." Selagi dia hendak menjemput kertas surat itu, sekonyong-konyong bagian iga terasa kesemutan.

Rupanya Yap Man-jing juga telah bertindak. Dengan ujung belati emas ia ancam iga Giok-he dan membentak, "Kau mau apa?!"

"Sebagai muridnya, masakah aku tidak dapat membaca surat wasiat guru sendiri?!" teriak Giok-he. Meski di mulut ia membantah, namun tubuh tidak berani bergerak sama sekali.

"Mundur dulu ke sana!" bentak Man-jing.

"Kau ini apa, berani memerintah diriku?!" jawab Giok-he dengan gusar.

Tapi segera dirasakan setengah badan kaku kesemutan. Tanpa terasa ia menyurut mundur ke belakang Liong Hui. Karena perhatiannya terpusat kepada surat wasiat gurunya sehingga agak lengah dan dapat diatasi oleh Yap Man-jing. Sungguh tidak kepalang rasa gusar dan dongkol Giok-he, bibirnya sampai gemetar dan sukar bicara lagi.

Liong Hui sangat sayang kepada sang istri. Cepat ia berbangkit dan memegang tangannya yang terasa sangat dingin itu. Tanyanya dengan khawatir, "Ba... bagaimana, Moaycu? Engkau tidak apa-apa bukan?"

Tersembul senyuman terhibur di ujung mulut Kwe Giok-he. Ia menyahut, "Aku... aku tidak apa-apa!" Mendadak ia mengisiki Liong Hui dengan suara tertahan, "Lekas kau baca surat wasiat itu. Bila isinya tidak menguntungkan kita, sebaiknya jangan kau baca dengan suara keras!"

Liong Hui melengak. Dipandangnya sang istri dengan bingung, agaknya baru sekarang ia dapat memahami jalan pikiran istrinya itu.

Didengarnya Yap Man-jing lagi mengejek, "Hm, pesan tinggalan guru tidak lekas dibaca, tapi buru-buru menghibur istri yang sok aksi, huh...?!"

Muka Liong Hui menjadi merah. Perlahan ia membalik tubuh, segera ia hendak menjumput surat wasiat itu. Siapa tahu pedang Yap Man-jing lantas menyambar dari samping. Dengan ujung pedang hijau Yap-siang-jiu-loh ia cungkit surat itu.

"Apa maksudmu ini?" damprat Liong Hui dengan kurang senang.

"Kau kelihatan ogah membaca surat ini, biarkan orang lain saja yang membacanya," jengek Man-jing. Sorot matanya lantas berputar. Setiap orang dipandangnya sekejap secara bergiliran, tampaknya sedang mencari calon untuk disuruh membaca surat wasiat itu. Tiba-tiba ia mendekati Ong So-so dan berkata, "Ambil surat ini dan bacalah dengan suara keras supaya didengar semua orang!"

So-so baru saja siuman dari pingsannya, mukanya masih pucat. Ia coba melirik Giok-he sekejap, lalu bertanya "Kenapa kau suruh kubaca pesan tinggalan Suhu?" Sembari bicara, tidak urung ia ambil juga surat yang tersunduk di ujung pedang orang itu. Setelah ragu sejenak lagi, dipandangnya Ciok Tim, lalu memandang pula Lamkiong Peng, dan akhirnya dia membentang kertas surat itu.

"Baca dengan suara keras! Satu kata pun tidak boleh ketinggalan, baca selengkapnya!" seru Yap Man-jing.

Giok-he saling pandang sekejap dengan Liong Hui, dirasakan tangan sang istri sedingin es. Ia menghela napas dan menghiburnya, "Segala apa terserah kepada takdir, buat apa engkau cemas?"

Giok-he memejamkan mata, dua titik air mata lantas menetes. Liong Hui menggenggam tangan istrinya dengan erat. Didengarnya So-so telah mulai membaca.

"Janji pertarunganku dengan Yap Jiu-pek sudah dilakukan sejak sepuluh tahun yang lalu. Yang menang tetap hidup, yang kalah harus mati. Apa pun yang terjadi takkan disesalkan pihak mana pun, juga takkan benci dan dendam. Jika aku kalah dan mati, ini pun kulakukan dengan suka-rela. Setiap anak muridku dilarang menuntut balas terhadap anak murid Tan-hong, yang melanggar pesan ini bukanlah muridku, pemegang Kim-liong-bit-leng berhak memecatnya dari perguruan."

Mungkin karena tegang dan juga emosional, meski sedapatnya ia menenangkan diri, tidak urung suara So-so tetap agak bergemetar. Sampai di sini ia berganti napas, setelah agak tenang barulah ia membaca lebih lanjut.

"Di antara anak muridku, anak Hui yang pertama masuk perguruan. Ia juga terhitung keponakanku sendiri, jujur dan lugas, sangat kusayang, hanya pribadinya teramat lugu dan kaku, mudah menerima kisikan, inilah cacatnya sehingga sukar memegang pekerjaan besar dan tidak dapat menghasilkan sesuatu."

Sampai di sini So-so berhenti sejenak sambil melirik Liong Hui sekejap. Liong Hui tampak menunduk kikuk. Segera So-so menyambung lagi.

"Ada pun pribadi anak Tim cukup kuat, tegas dan bijaksana. So-so halus budi dan lemah lembut...," karena menyangkut diri sendiri, muka So-so menjadi merah. Ia membetulkan rambutnya yang kusut, lalu menyambung, "Hanya anak Peng saja berasal dari keluarga ternama. Sejak kecil mendapat didikan ketat, tidak ada sifat dugal atau nakal. Terlebih pembawaannya pendiam dan tidak suka menonjol, malahan bakatnya sangat tinggi. Maka kuputuskan...."

Sampai di sini mendadak terdengar Kwe Giok-he menangis sedih. Liong Hui menghela napas dan merangkulnya perlahan.

Terdengar Giok-he berkeluh, "Oo... sudah banyak yang kukerjakan bagi Ci-hau-san-ceng, tapi... tapi beliau sama sekali tidak menyinggung diriku di dalam pesannya ini."

"Sabarlah, Moaycu. Mengapa hari ini engkau berubah menjadi begini?!" ucap Liong Hui dengan kening bekernyit.

Giok-he mengangkat kepala, mukanya penuh air mata. Katanya, "Sungguh hatiku sangat sedih, sudah... sudah sekian tahun kukerja keras bagi Suhu, tapi... tapi apa yang kita peroleh? Apa yang kita peroleh...?"

Mendadak Yap Man-jing mendengus dan melengos, seperti tidak sudi melihatnya. Namun dia tetap berjaga di samping So-so. Sesudah termangu sejenak, lalu So-so membaca lagi.

"Maka sudah kuputuskan menyerahkan Yap-siang-jiu-loh yang sudah berpuluh tahun tidak pernah berpisah denganku ini serta tugas menjaga peti wasiat kepada anak Peng. Tugas ini harus dilaksanakan hingga tuntas, peti rusak orang pun binasa."

Bekernyit juga kening So-so, agaknya dia tidak paham arti kalimat terakhir itu. Ia termenung sejenak dan mengulang lagi kalimat itu, "Peti rusak orang pun binasa!" Kemudian ia melanjutkan, "Selama hidupku ada tiga cita-citaku yang belum terlaksana, semua ini juga harus dilaksanakan oleh anak Peng. Ketiga urusan ini sudah kuberi tahukan kepada nona Yap Man-jin...."

Kembali So-so berhenti. Sinar mata Ciok Tim tampak gemerdep. So-so lantas melanjutkan.

"Selama beberapa puluh tahun aku berkecimpung di dunia kangouw, tidak bisa terhindar dari lumuran darah kedua tanganku. Tapi bila kuraba hati dan bertanya pada diri sendiri, rasanya aku tidak pernah berbuat sesuatu yang melanggar keadilan dan kemanusiaan. Selanjutnya aku tidak mampu mengikuti kejadian duniawi lagi, Ci-hau-san-ceng yang kudirikan ini seterusnya kuserahkan kepada...." Mendadak So-so berhenti pula. Sambil menarik napas dalam-dalam, air mukanya kelihatan terheran-heran.

"Serahkan kepada siapa? Lanjutkan!" seru Yap Man-jing dengan tidak sabar.

Berputar bola mata Ong So-so. Ia bertanya lirih, "Memangnya surat ini belum kau baca?"

Alis Yap Man-jing menegak, katanya lantang, "Memangnya kau kira anak murid Tan-hong adalah manusia rendah begitu?"

So-so menghela napas hampa. Katanya, "Oo, tadinya kukira surat ini sudah kau baca. Karena menguntungkanmu tentu saja kau serahkan kepada kami, jika isinya tidak menguntungkanmu tentu takkan kau serahkan kepada kami."

Nadanya jelas penuh rasa kagum dan hormat kepada orang, juga penuh rasa kasih sayang dan lemah lembut. Setiap gerak-gerik So-so memang timbul sewajarnya dan setulusnya sehingga siapa pun tidak tega membikin susah dia.

Tangis Giok-he mulai reda. Tiba-tiba ia menengadah dan bertanya, "Apakah betul surat itu tulisan tangan Suhu?"

So-so mengangguk perlahan.

Giok-he mengusap air matanya dan berkata pula, "Kau kenal tulisan pribadi Suhu?"

"Akhir-akhir ini Suhu sering berlatih menulis," tutur So-so dengan perlahan, "dan akulah yang selalu meladeni beliau dengan mengasahkan tinta bak baginya."

Sampai di sini dua titik air mata lantas menetes, rupanya dia terkenang kepada sang guru yang berbudi itu. Ketika dia hendak menyeka air matanya, tiba-tiba dirasakan pundaknya ditepuk orang perlahan. Ternyata Yap Man-jing telah menyodorkan sapu-tangan kepadanya.

Giok-he terdiam sejenak, kemudian ia bertanya, "Lantas bagaimana? Suhu menyerahkan pengurusan Ci-hau-san-ceng kepada siapa?!"

So-so mengusap air matanya, lalu mengembalikan sapu-tangan kepada Yap Man-jing dengan tersenyum terima-kasih. Dibetulkannya kertas surat yang dipegangnya, lalu membaca lagi, "Ci-hau-san-ceng seterusnya kuserahkan kepada anak Hui dan Giok-he suami-istri!"

Serentak Giok-he berdiri tegak dan memandang langit yang biru kelam itu. Ia termangu-mangu sekian lama, air mukanya tampak malu dan menyesal.